Log inKomunitas Pengajian Unsoed

Archive for July, 2010

Tips Aman Bersepeda

Sunday, July 4th, 2010

Tulisan ini dimaksudkan untuk sekedar sharing yang di ambil dari artikel tetangga, harapannya pembaca termotivasi untuk bersepeda yang lebih baik.

Aman Bersepeda di Jalan Raya
Sangatlah penting untuk mengetahui bagaimana caranya sepeda dengan aman di jalan raya. Usahakan tetap berada di jalur sebelah kiri. Namun jangan terlalu ke pinggir, sebab biasanya pecahan gelas/kaca dan benda-benda tajam penyebab ban bocor, justru ada di situ. Anda mempunyai yang sama dengan pengguna kendaraan bermotor lainnya. Bersepedalah dengan jarak 2-3 kaki dari bibir aspal. Beri ruang pada kendaraan lain untuk lewat tanpa mengganggu jalur yang sedang Anda pakai. Gunakan isyarat-tangan sebelum berbelok dan pastikan memasang sejumlah reflektor jika bersepeda dalam kondisi gelap.Kalau bersepeda di jalur XC, yang penting adalah jangan pernah lewat kubangan kerbau

Kenakan Helm
Jika Anda ingin lebih aman bersepeda, selalu gunakan helm sepeda. Cedera di bagian tubuh lainnya masih bisa diobati dan pulih kembali, sedangkan sel otak yang cidera sangat sulit terdeteksi dan sukar disembuhkan. Segeralah kunjungi toko sepeda dan pilih salah satu helm yang memiliki standar keamanan sesuai keahlian Anda bersepeda. Pilihlah yang benar-benar terasa pas dengan ukuran kepala Anda dan sesuaikan tali pengikatnya agar helm tak mudah lepas. Jangan sampai kendor atau sebaliknya kekencangan.Gunakan shifter
Banyak orang yang gemar bersepeda menggunakan gear tertinggi sepanjang waktu. Maksud hati ingin memperoleh kecepatan semaksimal mungkin. Akibatnya mereka mengayuh dengan keras dan cepat kecapaian. Cara demikian bukan saja menyebabkan kaki pegal-pegal, tapi juga dapat merusak otot dan persendian. Padahal cara bersepeda yang efisien justru mengusahakan kayuhan (cadence) berada di kisaran 80-100 putaran permenit (RPM). Pakailah shifter guna memelihara cadence tergantung kondisi jalan yang dihadapi. Turunkan gear bila menghadapi jalan menanjak. Jangan merasa enggan untuk mengoper shifter sesering mungkin, demi kenyamanan kaki Anda saat mengayuh pedal. Lebih baik bersepeda dengan aman dan nyaman, ketimbang semata-mata mengejar kecepatan.

Mengendalikan Handlebar di Tikungan
Ini karena tampak hanya perlu memutar handlebar, mengikuti arah tikungan dan cukup meluruskan handlebar kala ingin lebih cepat menambah kayuhan. Wajar jika pertama kali Anda merasa takut saat melewati tikungan hingga sepeda tampak miring. Tapi pengendara yang lebih ahli bahkan dapat memiringkan sepeda hingga mendekati 45 derajat tanpa terjatuh. Berlatihlah pada tahap awal menghadapi tikungan dengan kecepatan sedang tanpa kaku. Semakin banyak Anda berlatih, perasaan takut melewati tikungan akan hilang dengan sendirinya.

Pengereman
Ada mitos yang mengatakan pengereman pada roda depan bisa menyebabkan pengendara sepeda dapat terjungkal. Mitos ini tak seluruhnya benar, rem depan justru berfungsi lebih banyak dibanding rem belakang. Rem depan mampu menghentikan laju sepeda lebih efisien.

Bersepeda di Jalur Off-Road

Banyak tantangan unik yang terbentang di jalur off-road. Bersepeda akan terasa lebih menyenangkan karena melewati tanah, rumput, pepohonan, dan pemandangan alami lainnya. Meski demikian, jangan pernah mencoba memakai sepeda non off-road di atas jalur ini. Selain berbahaya juga mengandung banyak resiko, ban kempes misalnya. Pakailah sepeda yang memang dirancang untuk off-road jika ingin mereguk kenikmatan bersepeda lintas alam. Sepeda gunung (mountain bike) merupakan pilihan yang terbaik. Pertimbangkan jaur yang dilewati sesuai kemampuan bersepeda Anda. Jangan malu untuk memutar atau menuntun sepeda, jika kondisi jalan memang dirasa terlalu sulit dilewati.

Bicycle Fitness
Bersepeda merupaka cara terbaik untuk memperoleh kesehatan. Bila Anda sudah lama tak berolahraga, mulailah dengan perlahan agar tubuh mengalami rekondisi. Bersepedalah dengan jarak yang pendek pada tahap permulaan (kurang dari sejam) dan usahakan secara berkala (4-5 kali dalam seminggu). Pada masa ini tubuh akan mengalami penyesuaian. Guna menghindari cidera, jangan bersepeda terlalu berat atau dalam jarak yang jauh. Setelah seminggu atau dua minggu berikutnya, Anda sudah siap untuk menambah jarak dan waktu bersepeda lebih panjang.

Sumber:
http://bobico-bobicobojonggedebikecommunity.blogspot.com/2009/01/cara-bersepeda-yang-aman.html

Penggunaan dua rem, rem depan, dan rem belakang sepeda

Sunday, July 4th, 2010

Tujuan mengerem memang hanya dua: membuat sepeda berhenti atau mengurangi laju kecepatan.

Tapi jangan pernah menganggap bahwa mengerem adalah persoalan sederhana.

“Ada tekniknya juga,” kata Chandra Ariavijaya, pelatih sepeda gunung yang bermarkas di Bandung itu.

Orang yang paham, akan tahu kapan harus menggunakan rem depan, kapan harus memencet rem belakang, dan kapan pula harus memencet dua rem sekaligus.

Menurut Chandra, para newbie, pesepeda yang masih pemula, umumnya cenderung menggunakan rem belakang saat hendak mengurangi kecepatan atau ketika ingin berhenti.

Mereka, para newbie itu, kerap berpandangan bahwa penggunaan rem depan bisa membahayakan.

Jika dilakukan mendadak, roda belakang sepeda bisa terangkat tinggi, dan tubuh akan terjungkir
jatuh ke depan dengan kepala lebih dahulu menyentuh tanah.

Beda halnya dengan para pesepeda yang sudah banyak makan asam garam.

Para jagoan umumnya justru lebih banyak menggunakan rem depan dibanding rem
belakang.

Ya, hanya rem depan, bukan rem belakang atau dua buah rem sekaligus.

Banyak alasan. Dengan asumsi setelan kepakeman rem depan dan belakang sama, menggunakan rem depan jauh lebih efisien. Hal ini terjadi lantaran kawat (atau minyak, jika memakai sistem hidrolik) rem depan jauh lebih pendek
ketimbang rem belakang.

Travel yang pendek itu membuat proses perpindahan tenaga dari jari ke break shoes atau break pad rem depan jauh lebih cepat dan efektif. “Perbedaan daya cengkeram rem depan dan belakang bisa mencapai 30 persen,” papar Chandra.

Mubazirkah rem belakang? Tidak juga. Ibarat pelakon film, fungsi rem
belakang itu mirip-mirip “pemeran pembantu”, bukan “pemeran utama”.

Pemeran pembantu hanya nongol sesekali saja.

Beberapa situs sepeda menyebutkan, rem belakang sebaiknya hanya dipakai dalam beberapa kasus tertentu. Pertama, bila rem depan ternyata tidak cukup pakem.

Untuk mengecek kepakeman ini gampang saja.

Kayuhlah sepeda kencang-kencang, lalu tekan rem depan kuat-kuat.

Jika sepeda bisa berhenti dan roda belakang terangkat, itu artinya rem depan
sepeda kita cukup pakem.

Nah, jika rem depan sudah ditekan dan ban belakang tak terangkat, yakinlah bahwa rem depan sepeda Anda tak cukup pakem. Artinya, untuk menghentikan sepeda, Anda perlu bantuan rem belakang. Dalam kasus seperti ini, dua tuas rem
sebaiknya dipencet bersamaan.

Penggunaan dua tuas rem secara bersamaan juga musti dilakukan jika kita sedang berbasah-basah. Soalnya, pad rem terkadang kehilangan daya cengkeramnya bila
terkena air.

Mengandalkan satu rem pada kondisi seperti itu bukanlah pilihan bijak.

Di luar dua kasus istimewa ini, penggunaan dua rem secara bersamaan sangat tak dianjurkan. Bukan saja karena boros tenaga, sepeda juga bisa kehilangan keseimbangan jika dua rodanya direm bersamaan. Bagian belakang sepeda akan bergerak seperti ekor ikan -goyang ke kiri dan ke kanan.

Belakang jika licin

Benar juga kata orang bahwa 95 persen pengereman yang dilakukan oleh para jagoan adalah dengan memencet rem depan. Tapi ada masa-masa tertentu yang membuat mereka memilih penggunaan rem belakang.

Pertama, jika permukaan jalan ternyata licin dan traksi roda tak memadai. Di atas permukaan yang licin, penggunaan rem depan berisiko tinggi: ban bisa selip (spinning).

Kedua, jika kita harus melewati jalan berbatu-batu. Mau tahu apa alasannya?

Di jalanan berbatu, ban akan terpental-pental ke udara (meskipun hanya dengan ketinggian 2-3 cm saja). Nah, pengereman akan membuat gerakan roda yang
“terbang” itu terkunci. Kerap kali, kuncian rem itu tak juga terbuka meskipun roda sudah kembali jatuh ke tanah.

Masih mendingan jika yang terkunci itu adalah roda belakang.

Sepeda memang akan jadi sedikit oleng. Tapi, asal kita tak panik, nyaris tak mungkin hal itu membuat kita terjatuh. Beda halnya jika yang terkunci putarannya adalah roda depan. Setenang apa pun kita, risiko jatuhnya sangat besar.

Satu lagi. Rem belakang sebaiknya juga dipakai jika tekanan angin di roda depan tak cukup. Pada kondisi ini, penggunaan rem depan secara mendadak bisa membuat roda copot dari velg.

Silih berganti

Tips ini mesti kita ingat saat kita melahap turunan panjang.

Di medan seperti ini, tak dapat dihindari, intensitas penggunaan rem akan meningkat tajam. Naiknya intensitas itu akan membuat rem memanas.

Pada tipe disk brake yang panas piringannya, dan pada tipe rem V-brake yang panas velg-nya. Disk yang kepanasan akan membuat rem tak pakem.

Sementara velg yang memanas bisa membuat ban meledak karena naiknya volume
udara yang memuai di dalam ban.

Dua macam petaka itu tentu saja harus kita hindari. Cara yang paling
efektif,

tentu saja, adalah dengan membagi beban antara rem depan dan belakang.

Gunakan kedua rem secara bergantian agar tak ada pemanasan yang berlebih.

Penggunaan rem secara bergantian juga memberikan manfaat lain.

Tangan (tepatnya salah satu tangan) tak harus terlalu capai.

Anda tahu, jika salah satu tangan kelelahan, fungsinya

sebagai pengendali setang juga akan merosot.

Kiri atau kanan?

Penempatan tuas rem juga merupakan satu masalah.

Mereka yang pernah meminjam sepeda umumnya punya pengalaman buruk tentang
hal ini.

Ingin memencet rem belakang ternyata yang terkunci malah rem depan, atau
sebaliknya.

Gara-garanya sederhana saja. Yang punya sepeda menempatkan tuas rem belakang
di kanan,

sedang yang meminjam terbiasa dengan penempatan tuas rem belakang di tangan
kiri.

Soal penempatan tuas rem ini tampaknya sederhana, tapi sekaligus juga pelik.

Sepeda-sepeda keluaran Amerika umumnya menempatkan tuas rem belakang di
tangan kiri,

sementara kebanyakan produsen sepeda Eropa meletakkannya di kanan.

Standar kita? Itulah celakanya. Kita tak punya standar mengenai hal itu.

Secara teoritis, tangan kanan yang lebih kuat (kecuali bagi yang kidal)
sebaiknya

“dijodohkan” dengan rem depan karena rem depan lebih banyak digunakan.

Apalagi, karena terbiasa dengan penempatan tuas rem sepeda motor atau sepeda

Eropa tempo doeloe, penempatan tuas rem depan di tangan kanan juga akan

mengurangi risiko salah pencet. (AR& M.S.F)

C Majalah Cycling doc 2006.